Senin, 13 Juni 2011

Sejarah Sastra Indonesia Sejak Tahun 50-an (Leksikon Sastra Indonesia)


Sejarah Sastra Sejak 1961















Sastra dan Politik

Merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa sudah sejak awal pertumbuhan sastrawan-sastrawan Indonesia menunjukkan perhatian yang serius kepada politik. Bahkan ada di antaranya yang kemudian lebih terkenal sebagai politikus daripada pengarang seperti Muh. Yamin dan Roestam Effendi. Demikian juga para pengarang pujangga baru ialah orang-orang yang aktif dalam dunia pergerakan nasional. Para pengarang pada awal revolusi bukanlah orang-orang yang bersifat a-politis. Chairil Anwar, Pramaedya Ananta Toer, Achdiat K. Mihardja, Mochtar Lubis merupakan orang-orang yang mempunyai pandangan dan kesadaran po-litik.

Perbedaan-perbedaan pandangan mengenai seni dan sastra yang berpangkal pada perbedaan-perbedaan pendirian politik, sudah sejak lama kelihatan dalam dunia sastra Indonesia. Pada awal tahun lima puluhan terjadi polemik yang seru juga antara orang-orang yang membela hak hidup Angkatan ‘45 dengan orang-orang yang mengatakan “Angkatan ‘45 sudah mampus” yang berpangkal pada suatu sikap politik. Pihak yang berpaham realisme-sosialis, yaitu paham ya-ng menjadi filsafat-seni kaum komunis aktif mengadakan polemik. Penganut paham realisme sosials yang paling keras teriakannya ialah As Dharta yang menjadi pokok soal bahan polemik-polemik ialah paham “seni untuk seni” dan “seni untuk rakyat”, orang-orang yang menganut paham realisme sosialis berpaham “seni untuk rakyat” sambil mengutuk orang-orang yang berpaham “seni untuk seni” sebagai penganut “humanisme universal” yang dicapnya sebagai filsafat kaum borjuis kapitalis yang bobrok.

Yang paling bernilai di antara polemik-polemik itu karena kedua belah pihak menulis dengan kepala dingin dan pandangan yang luas serta hati terbuka, ialah yang terjadi sekitar tahun 1954 antara Boejoeng Saleh Poeradisastro dengan Soedjatmoko berkenaan dengan pandangan-pandangan Soedjatmoko dalam karangannya “Mengapa Konfrontasi”.

Pada tahun 1950, berdirilah di Jakarta Lembaga Kebudayaan Rakyat yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Lekra. Sebagai sekretaris jenderalnya yang pertama bertindak As. Dharta. Pada mulanya, Lekra ini belum merupakan organ kebudayaan dari PKI. Di antara yang hadir pada ketika pembentukan Lekra itu terdapat orang-orang yang kemudian menjadi musuh, antara lain HB. Jassin dan Achdiat K. Mihardja. Setelah PKI kuat kedudukannya, Lekra secara resmi menjadi organ kebudayaannya. Lekra dengan tegas menganut “seni untuk rakyat” dan menghantam golo-ngan yang menganut paham “seni untuk seni”.

Dalam gelanggang percaturan politik, PKI makin kuat kedudukannya. Tahun 1959 Soekarno mendekritkan UUD 1945 berlaku lagi dan mengajukan “Manifesto Politik” (Manipol) sebagai dasar haluan negara. Manipol member-kan ruang gerak kepada PKI untuk merebut tempat-tempat dan posisi-posisi penting untuk merebut kekuasaan.

Dalam usahanya mempersiapkan diri merebut kekuasaan itu, PKI mengerahkan segala kekuatan di segala bidang. Dalam bidang kebudayaan dilakukan oleh Lekra. Lekra melakukan teror terhadap orang-orang dan golongan yang dianggapnya tidak sepaham.

Dalam bidang sastra, satu persatu pengarang yang mempunyai paham berbeda dengan mereka, dihantam dan dimusnahkan. Sutan Takdir Alisjahbana yang politis menjadi anggota partai yang dibubarkan (PSI) dan Hamka (Masyumi) menjadi sasarannya. Buku-buku mereka dituntut supa-ya dilarang dipergunakan.

Tahun 1950, PNI membentuk Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) diketuai oleh Sita Situmorang. NU membentuk Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) dengan ketua Osman Ismail. Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Syariat Islam Indonesia (PSII), Partai Indonesia (Partindo).

Dengan berbagai cara para budayawan, seniman, dan pengarang Indonesia dipaksa masuk Lekra. Organisasi-organisasi yang hendak berdiri sendiri (independen) terus diteror dan difitnahnya seperti terjadi dengan Himpunan Ma-hasiswa Islam (HMI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII).



Manifes Kebudayaan dan Konferensi Karyawan Pengarang se Indonesia

Mei 1961 diterbitkan Majalah Sastra. Ketua: HB. Jassin, Redaktur penyelenggara: DS. Moeljanto. Majalah sastra mengutamakan memuat cerpen, juga sajak, kritik dan esai.

Beberapa pengarang esai yang banyak menulis pada masa itu adalah Goenawan Mohamad, Arief Budiman (Soe Hok Djin), D.A. Peransi, dan lain-lain. Beberapa penulis esai seperti Iwan Simatupang dan Wiratmo Soekito juga banyak menulis dalam majalah sastra. Boen S. Oemarjati, M.S Hutagalung, Virga Belan, Salim Said juga sering mengumumkan kritik-kritiknya dalam majalah tersebut.

Pengarang-pengarang cerpen dalam majalah sastra antara lain B. Soelarto Bur Rasuanto, A. Bastari Asnin, Satyagraha Hoerip Soeproto, Kamal Hamzah, Ras Siregar, Sori Si-regar, Gerson Poyk, B. Jass, dan lain-lain. Sedang para penyair antara lain: Isma Sawitri, Goenawan Mohamad, M. Saribi Afn, Poppy Hutagalung, Budiman S. Hartojo, Arifin C.Noer, Sapardi Djoko Danomo, Armaya, dan lain-lain.

17 Agustus 1963 diumumkan “Manifes Kebudayaan” yang disusun dan ditandatangani sejumlah pengarang dan pelukis Jakarta, antara lain H.B Jassin, Trisno Sumardjo, Wirat-mo Soekito, Zaini, Goenawan Mohamad, Bokor Hutasuhut, Soe Hok Djin, dan lain-lain.

Manifes Kebudayaan

Kami para seniman dan cendekiawan Indonesia dengan mengu-mumkan sebuah manifes kebudayaan yang menyatakan pendirian, cita-cita dan politik kebudayaan nasional kami.

Bagi kami kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektoral kebudayaan di atas sektor kebudayaan lain. Setiap sektor berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai de-ngan kodratnya.

Dalam melaksanakan kebudayaan nasional kami berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengahnya masyarakat bangsa-bangsa.

PANCASILA adalah falsafah kebudayaan kami.

Jakarta, 17 Agustus 1963

Manifes ini segera mendapatkan sambutan dari pelosok tanah air. Di pihak lain, manifes itu mempermudah Lekra beserta kampanyenya untuk menghancurkan orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh. Namun, pihak manifes pun tidak tinggal diam, mereka mempersiapkan konfe-rensi pengarang yang mereka namakan Konferensi Karyawan Pengarang SeIndonesia (KKPI). Konferensi ini berlangsung di Jakarta bulan Maret 1964, yang menghasilkan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI). Tapi, sebelum PKPI berjalan, Soekarno (presiden saat itu) menyatakan manifes kebudayaan terlarang. Para budayawan, seniman, dan pengarang penandatangan manifes kebudayaan diusir dari tiap kegiatan, ditutup kemungkinan mengu-mumkan karya-karyanya, bahkan yang menjadi pegawai pemerintah dipecat dari pekerjaannya.

Perkataan ‘Manikebuis’ menjadi istilah populer untuk menuduh seseorang “kontra revolusi, anti-manipol, antiisdek, anti-nasakom dan sebagainya. Majalah sastra dituntut dila-rang terbit. Demikian juga majalah Indonesia, dan lain-lain.

Situasi ini memberi ciri kepada karya-karya sastra yang dihasilkan periode ini. Yang ingin membela kemerdekaan manusia yang diinjakinjak tirani mental dan fisik. Sajak-sajak, cerpen-cerpen, terutama esai-esai yang ditulis merupakan protes sosial dan protes terhadap penginjakan martabat manusia. Puncaknya adalah sajak-sajak Taufiq Ismail, Mansur Samin, Slamet Sukirnanto, Bur Rasuanto, Abdul Kadir Zaelani Armaya (lebih dengan nama pena “Armaya” saja) dan lain-lain yang ditulis ditengah demonstrasi mahasiswa dan pelajar awal tahun 1966. Sajak-sajak demonstrasi yang dikumpulkan Taufik Ismail dalam “Tirani” dan “Benteng” (tahun 1966) merupakan dari suatu periode sejak tahun 1966, terbit majalah Horison yang dipimpin Mochtar Lubis, H.B Jassin, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan lain-lain. Akhir tahun 1967, majalah sastra dihidupkan kembali dengan pimpinan redaksi H.B Jassin, terbit pula majalah cerpen dipimpin Kassim Achmad dan D.S Moeljanto. Sejak Juni 1968 terbit majalah Budaya Djaja yang dipimpin Ilen Surianegara dengan redaksi Ajip Rosidi dan Hariyadi S. Hartowardjojo. Majalah-majalah itu isinya menunjukkan hasil-hasil masa transisi.

Para Pengarang Lekra

Karangan-karangan yang ditulis oleh pengarang bukan ang-gota Lekra, asalkan menguntungkan bagi pihak Lekra, maka karangan tersebut diterbitkan juga. Misalnya kumpulan sajak Sitor Situmorang yang berjudul “Zaman Baru” tahun 1962 diterbitkan oleh organ penerbitan Lekra.

Kecuali ruangan kebudayaan dalam surat kabar partai Harian Rakyat yang dipimpin oleh NR. Bandaharo, Lekra mempunyai majalah Zaman Baru yang dipimpin oleh Rivai Apin, S. Anantaguna dan lain-lain. Beberapa bulan menjelang Gestapu, mereka menerbitkan harian Kebudayaan Baru yang dipimpin oleh S. Antaguna, yang dalam penerbitannya selalu dimuat sajak-sajak, cerpen-cerpen, esai-esai dan karangan-karangan lain baik asli maupun terjemahan karya para anggota Lekra atau bukan.

Paramoedya Ananta Toer yang merupakan salah seorang ketua lembaga seni sastra (Lekra) dan salah seorang anggota pleno Pengurus Pusat Lekra, memimpin ruangan ke-budayaan Lentera dalam surat kabar Bintang Timur Minggu yang resminya ialah koran Partindo.

Di antara golongan nama-nama baru yang untuk pertama kali menulis, ada juga nama-nama yang sudah dikenal sebagai pengarang yang kemudian masuk Lekra. Nama-nama yang sudah dikenal itu antara lain Rivai Apin, S. Rukiah, Kuslan Budiman, S. Wisnu Kontjahjo, Sobron Audit, Utuy T. Sontani Dadang Djiwapradja, Pramoedya Ananta Toer dan lain-lain.

Di antara para penulis yang namanya sejak mulai muncuk selaku dalam lingkungan Lekra ialah A.S. Dharta, Bachtiar Siagin, Bakri Siregar, Hr. Bandaharo, F.L. Risakorta, Zubir A.A, A. Kohor Ibrahim, Amarzam Ismail Hamid, S. Anan-taguna, Agam Wispi, Kusni Sulang, B.A. Simanjuntak, Su-giarti Siswandi, Hadi S. dan lain-lain.

AS. Dharta alias Kelana Asmara, alias Klara Akustia alias Yogaswara alias Garmaraputra dan sejumlah alias lagi, nama sebenarnya ialah Rodji, lahir di Cibeber, Cianjur tanggal 7 Maret 1923. Ia seorang pendiri Lekra dan menjadi sekretaris jenderalnya yang pertama, ia pernah menjadi anggota konstitutuante sebagai wakil PKI dan dipecat oleh Lekra. Sajak-sajaknya diterbitkan dengan judul “Rangsang Detik” tahun 1957 dan karangan-karangan “Polemis de-ngan H.B Jassin”, dan lain-lain.

Bachtiar Siangin banyak menulis sanoiwara, ia menerbitkan beberapa buku sandiwara, di antaranya “Lorong Belakang” (1950). Agam Wispi lahir di Idi, Aceh tahun 1934. Mula-mula menulis cerpen dan sajak, kemudian esai dan bentuk-bentuk sastra lain. Sejumlah sajaknya dimuat juga dalam berbagai penerbitan bersama yang dikumpulkan dalam “Sahabat” (1959).

S. Anantaguna (lahir di Klaten tanggal 9 Agustus 1930) mula-mula menulis sajak-sajak tetapi kemudian menulis juga cerpen dan karangan-karangan lain. Sajak-sajak yang diterbitkan dalam kumpulan “Yang Bertanah Air Tapi Ti-dak Bertanah” (1964).

Sobron Aidit lahir di Belitung 2 Juni 1934 juga mula-mula hanya menulis sajak kemudian juga menulis cerpen dan roman. Sajak-sajak awal (sebelum ia aktif menjadi anggota Lekra) sebagian dimuat dalam kumpulan bersama Ajip Rosidi dan S.M. Ardan berjudul “Ketemu di Jalan” (1956). Sejumlah sajaknya dibukukan dalam “Palang Bertempur” (1959) sedangkan cerpen dan novel revolusinya diterbitkan dengan judul “Derap Revolusi” (1962).

Hadi S. yang nama panjangnya ialah Hadi Sosrodanukusumo, terutama menulis sajak yang sebagian telah diterbitkan dengan judul “Yang Jatuh dan Yang Tumbuh” (1954). Penyair Lekra di antara yang muda ialah Amarzan Ismail Ha-mid (lahir?) yang kadang-kadang juga menulis cerpen dan esai.


Para Pengarang Keagamaan

Yang mau menyaingi Lekra dalam bidang penerbitan buku-buku sastra barangkali hanya Lembaga Kebudayaan Kristen (Lekrindo) saja. Beberapa buku kumpulan sajak dan cerita-cerita karangan para pengarang Kristen yang pernah diterbitkan antara lain “Kidung Keramahan” (1963) kumpulan sajak Soeparwata Wiraatmdja, “Hari-hari Pertama oleh Gerson Poyk, dan kumpulan “Sejak Malam Sunyi” (1961) dan “Basah dan Peluh” (1962), kedua-duanya buah tangan Fridolin Ukur.

Buku-buku karya sastra yang bernafaskan agama Islam tidaklah diterbitkan oleh lembaga-lembaga atau badan-badan yang ada sangkut pautnya dengan lembaga-lembaga kebudayaan itu. Kumpulan cerpen dan roman Djamil Suherman yang berdujul “Umi Kalsum” dan “Perjalanan ke Akhirat” diterbitkan oleh penerbit Nusantara. Kumpulan sajak M. Saribi Afn “Gema Lembah Cahaya” (1964) diterbitkan oleh Pembangunan. Dan kumpulan sajak delapan orang penyair Islam (Armaya (Abdul Kadir Zaelani Armaya, lebih dengan nama pena “Armaya” saja), Goenawan Mohamad, Djamil Suherman, Hartojo Andangdjaja, Muhamad Diponegora, M. Saribi Afn, Taufiq Ismail dan M. Yoesmanan) yang berjudul “Manifes” (1963, diterbitkan oleh penerbit Tintamas).

Sementara itu, orang-orang Katolik mempunyai sebuah majalah bulanan kebudayaan umum yang terbit di Yogyakarta, Basis yang terbit sejak tahun 1951, tetapi baru pada paruh kedua tahun lima puluhan memberikan perhatian dan tempat yang lebih banyak buat masalah sastra dan karya-karya sastra.

Di antara para pengarang keagamaan lain yang telah menulis sajak-sajak dan cerpen-cerpen yang dimuat dalam majalah-majalah. Tetapi belum menerbitkan buku, antara lain patut disebut disini M. Abnar Romli, Abdul Hadi W.M, B. Jass, M. Josa Biran, Moh. Diponegoro dari agama Islam dan M. Poppy Hutagalung, Andre Hardjana, Satyagraha Hoerip Soeprobo, Bakti Soemanto, J. Sijaranamual dan lain-lain dari agama Kristen dan Katolik.

Sajak-Sajak Perlawanan Terhadap Tirani

Para mahasiswa dan pelajar di Indonesia berdemonstrasi menuntut untuk membubarkan PKI, ritual kabinet Dwikora dan turunkan harga, yang biasa disebut Tritura. Para pengarang dan penyair pun turut serta secara aktif dengan cara menulis sajak-sajak perlawanan terhadap tirani. Di antaranya adalah “Tirani” dan “Benteng” oleh Taufiq Ismail, “Perlawanan” oleh Mansur Samin, “Mereka Telah Bangkit” oleh Bur Rasuanto, “Pembebasan” oleh Abdul Wahid Sitomorang, “Kebangkitan” oleh lima penyair mahasiswa Fakultas Sastra, “Ribeli” yang ditulis oleh Aldiah Arifin, Djohan A. Nasution dan “Dua Pengaduan Lubis”, dan sajak-sajak yang lain. Yang cukup penting adalah kumpulan sajak “Tirani” yang tercetak pada tahun 1966 dan “Benteng” tahun 1968.

Adanya protes sosial dan politik dalam sajak itu menyebab-kan H.B. Jassin memperoklamasikan lahirnya “Angkatan 66” dalam Majalah Horison (1966), yang mengatakan bahwa khas pada hasil-hasil kesusastraan 66 ialah protes sosial dan protes politik. H.B. Jassin mengatakan, bahwa pengarang yang masuk Angkatan 66 adalah mereka yang pada tahun 1945 berumur kira-kira 6 tahun dan pada tahun 1966 berumur 25 tahun, mereka adalah Ajip Rosidi, WS. Rendra, Yusach Ananda, Armaya, Bastari Asnin, Hartoyo Andangdjaja, Mansur Samin, Sarbini Afn, Goenawan Mohammad. Indonesia O’Galelano, Taufiq Ismail, AA. Navis, Soewardi Idris, Djamil Suherman, Bokar Hulasuhut.

Terhadap Angkatan 66 ini timbul berbagai reaksi. Rachmat Djoko Pradopo di Horison (1967) menyambut Angkatan 66 Sastra Indonesia dengan baik, sedangkan Satyagraha Hoe-rip Soeprobo dan Arief Budiman lebih menyukai nama Angkatan Manifes (Kebudayaan).

Beberapa Pengarang

B. Soelarto

Lahir tanggal 11 September 1936 di Purwarejo. Ia menulis cerpen yang penuh dengan protes dan ejekan dan hanya catatan-catatan mengenai situasi politik dan sosial. Dramanya yang berjudul “Domba-Domba Revolusi” mendapat reaksi dari orang-orang Lekra. Kemudian drama itu ditulis dalam bentuk novel yang berjudul “Tanpa Nama” oleh Nusantara tahun 1963. Balai Pustaka juga menerbitkan dramanya yang berjudul “Domba-Domba Revolusi” (1968).

Bur Rasuanto

Lahir di Palembang, 6 April 1937. Ia menulis sajak, esai dan roman. Tahun 1967 ia pergi ke Vietnam menjadi wartawan perang Harian Kami. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam “Bumi Yang Berpeluh” (1963) dan “Mereka Akan Bangkit” (1964). Sajak-sajaknya berjudul “Mereka Telah Bangkit” diterbitkan dengan stensil. Romannya berjudul “Sang Ayah” (1969), dan “Manusia Tanah Air”.

A. Bastari Asnin

Lahir tanggal 29 Agustus 1939 d Muara Dua, Palembang. Ia bekerja sebagai anggota redaksi Harian Kami. Cerpen-cerpennya diterbitkan berupa buku dalam dua kumpulan yaitu “Di Tengah Padang” dan “Laki-Laki Berkuda”.

Satyagraha Hoerip Soeprobo

Lahir di Lamongan 7 April 1934, ia banyak menulis cerpen dan esai tentang kebudayaan. Romannya “Sepasang Suami Istri” melukiskan kehidupan seorang suami politikus. Ia juga pernah menulis buku berupa cerita wayang berjudul Resi Bisma. Tahun 1969, ia muncul sebagai editor sebuah buku “Antologi Esai Sekitar Persoalan-persoalan Sastra” yang memuat esai karya Asrul Sani, Iwan Simatupang, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan lain-lain.

Gerson Poyk

Lahir di Namodale, Pulau Roti, 16 Juni 1931. Buku pertamanya sebuah roman pendek berjudul “Hari-hari Pertama” (1964). Ia menjadi wartawan surat kabar Sinar Harapan, Jakarta.

Pengarang-pengarang kita seperti Fas Siregar menerbitkan kumpulan cerpen berjudul “Harmoni” dan roman “Terima Kasih”. LC. Bach menerbitkan sebuah roman yang berjudul “Hari Membaja”. Djumri Obeng menerbitkan roman yang berjudul “Dunia Belum Kiamat”. Poernawan Tjonsronagoro menerbitkan “Mendarat Kembali” dan “Mabuk Sake”. Rosidi Amir menerbitkan “Jalan yang Tak Kunjung Datar”. Zen Rosidy menerbitkan cerpen berjudul “Cinta Pertama”. Tabrin Tahar menerbitkan “Guruh Kering”, Maria Madijah menulis roman “Kasih di Medan Perang”.

Di majalah Sastra dan Horison juga ada beberapa penga-rang baru, misalnya Zulidahlan, Umar Kayam, Danarto, Muh. Fudali, Julius Sijaranamual, dan lain-lain yang belum mendapat kesempatan untuk mencetak cerpen-cerpen mereka menjadi buku.

Taufiq Ismail

Lahir tahun 1937 di Bukit Tinggi dan dibesarkan di Pekalo-ngan. Beliau mulai mengumumkan sajak-sajak, cerpen-cerpen dan esai-esainya sejak tahun 1954. Baru pada awal ta-hun 1966 ia muncul ke permukaan ketika karyanya berjudul “Tirani” berisi sajak-sajak diumumkan di tengah-tengah demonstrasi para mahasiswa dan pelajar yang menyampaikan “Tritura”. Dalam karyanya ini, beliau memakai nama samaran Nur Fadjar. Sajak-sajak itu berjumlah 18 dan dituliskan dalam waktu seminggu, antara tanggal 20 dan 28 Februari 1966 dan diterbitkan pertama kali di Majalah Gema Psycholohi. Kali ini Taufiq sudah terang-terangan mengumumkan namanya sendiri.

Antara tanggal 20 sampai 28 Februari 1966 di Jakarta terjadi peristiwa-peristiwa penting. Demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang menuntut Tritura. Uang diganti, bensin dinaikkan harganya, ongkos bis kota dinaikkan lima kali lipat. Tanggal 24 Februari, Kabinet Dwikora yang baru dan malah memasukkan menteri-menteri Gestapu lebih banyak lagi akan ditantik. Para mahasiswa dan pelajar bergerak. Bentrokan terjadi disertai penembakan. Arif Rahman Hakim tertembak dan wafat. Hal ini menyebabkan para mahasiswa dan pelajar lebih marah lagi. Pemakaman Arif Rahman Hakim dilakukan secara pahlawan dan orang yang mengiringi jenazahnya ke pekuburan sangat banyak.

Latar belakang itu harus dipahami agar kita dapat menikmati sajak-sajak Taufiq Ismail dalam Tirani yang menggugah rangsang emosional pembacanya secara meluas. Peristiwa di Skeretariat Negara (penembakan dan beberapa orang mahasiswa terluka) direkamkan dalam sajak “Sebuah Jaket Berlumur Darah”, “Harmoni”, “Jalan Segara”. Penembakan Arif Rahman Hakim direkamkan dalam sajak “Karangan Bunga”, “Salemba”, “Percakapan Angkasa”, “Aviasi”, dan “Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya”.

Sajak-sajak yang dimuat dalam “Benteng” tak jauh beda dengan yang dimuat dalam “Tirani”. Hanya dalam “Benteng”, pikiran sudah lebih banyak bicara. Dalam sajaknya “Rendezvous”, Taufiq yakin bahwa tugas yang ketika itu sedang dilakukannya ialah tugas sejarah yang tak bisa dielakkan. Maka, tujuan dan cita-cita yang lebih terperinci di-rumuskannya dalam “Yang Kami Minta Hanyalah”, “Refleksi Seorang Pejuang Tua”, “Benteng”, dan “Nasihat-nasihat Kecil Orang Tua pada Anaknya Berangkat Dewasa”.

Goenawan Mohamad

Dikenal sebagai penulis esai yang tajam dan penuh dengan kesungguhan. Tetapi ia pun sebenarnya seorang penyair berbakat dan produktif. Sajak-sajaknya banyak tersebar dalam majalah-majalah. Sajak-sajak itu mempunyai suasana muram, sepi menyendiri. Kesunyian manusia di tengah alam sepi tanpa kata banyak menjadi temannya, misalnya “Senja Pun Jadi Kecil”, “Kota Pun Jadi Putih” (Horison 1966). Tetapi, ia juga menaruh perhatian kepada masalah-masalah sosial dan kehidupan sekelilingnya. Misalnya sajak “Siapakah Laki-laki yang Roboh di Taman ini?” (Basis 1964).

Juga masalah agama banyak menjadi tema. Situasi kehidu-pan agama menyebabkan ia berpendapat: “… manusia tak lagi bebas, di mana agama bukan lagi merupakan kekuatan rohaniah, tetapi sudah merupakan kekuatan jasmaniah yang mengontrol tindak tanduk manusia. Manusia lama-kelamaan tidaklah menyembah Tuhan, tetapi menyembah aga-ma dengan segala aturan-aturannya yang mendetil”. Selanjutnya ia berkata: “Tak lain adalah bersikap kreatif yang membawa kita ke arah cara berpikir yang dialektik, sehingga segala macam ortodoksi setapak demi setapak akan luntur, demikian pula segala macam fanatisme dan segala bentuk sektarianisme. Bagi kehidupan keagaman itu sendiri sikap kreatif itu amat diperlukan untuk membawa agama ke arah modernisasi dalam cara berpikir dan dengan demikian, juga modernisasi seluruh masyarakat” (Horison 1966).

Goenawan lahir di Pekalongan tahun 1942, sajak-sajak dan esai-esainya belum diterbitkan sebagai buku kecuali yang dimuat bersama buah tangan para penyair lain dalam “Manifestasi” yang diselenggarakan oleh M. Saribi Afn.

Penyair-penyair lain

Saini K.M (lahir di Sumedang pada tanggal 16 Juni tahun 1938), banyak menulis sajak-sajak yang dimuat majalah-majalah sekitar tahun enam puluhan. Selain itu, beliau juga menulis cerpen dan esai serta menerjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya, Bahasa Sunda. Kumpulan sajaknya “Nyanyian Tanah Air” (tahun 1968) memuat sepilihan sajak-sajaknya.

Sapardi Djoko Damono menulis sajak yang kesederhaan pengucapannya langsung menyentuh hati. Sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1967-1968 diterbitkan akhir 1969 dengan judul “Duka-Mu Abadi”.

Wing Kardjo Wangsaatmadja (lahir di Garut pada tanggal 23 April 1937) sudah menulis sajak pertengahan tahun lima puluhan. Ia telah mengumumkan satu-dua sajaknya pada masa itu. Tetapi baru setelah ia bermukim di Paris (tahun 1963-1967), ia mengumumkan sajak-sajaknya secara berlimpah. Selain itu, ia banyak menerjemahkan dan menulis esai dan kritik tentang persoalan-persoalan seni umumnya.

Budiman S. Hartojo (lahir di Solo pada tanggal 5 Desember 1938) juga banyak menulis sajak-sajak dalam berbagai majalah. Demikian pula Piek Ardiajnto Suprijadi, Arifin C. Noer, Abdul Hadi W.M, Indonesia O’Galelano, Sanento Juliman, Darmanto Jatman, dan lain-lain.

Beberapa penyair telah berbahagia dapat melihat kumpulan sajaknya terbit, misalnya Kamal Firdaus T.F menerbitkan “Di Bawah Fajar Menyingsing” (1965), dan Rachmat Djoko Pradopo (lahir 3 Nopember 1939 di Klaten) menerbitkan “Matahari Pagi di Tanah Air” (1967) dan Slamet Sukirnanto menerbitkan “Kidung Putih”, “Puisi Alit” (1967).

Para Pengarang Wanita

Titie Said, S. Tjahjaningsih, Titis Basino, Sugiarti Siswandi, Ernisiswati Nutomo, Enny Sumargo, dan lain-lain sebagai pengarang prosa. Sedangkan sebagai penyair kita lihat munculnya Isma Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susy Aminah Aziz, Bipsy Soerharjo, Toeti Heraty Noerhadi, Rita Oetoro dan lain-lain.

Titie Said (Ny. Titie Raja Said Sadikun) adalah seorang wanita yang banyak menulis cerpen. Ia dilahirkan di Bojone-goro, 11 Juli 1935. Titie Said pernah menjadi anggota redaksi Majalah Wanita. Cerpen-cerpennya kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul “Perjuangan dan Hati Perempuan” (1962). Sebagian besar dari cerpen-erpen yang dimuat dalam buku itu mengisahkan perjuangan dan perasaan hati perempuan. Cerpen-cerpennya “Maria” dan “Kalimutu” merupakan cerpen-cerpen terbaik yang dimuat dalam buku tersebut.

S. Tjahjaningsih muncul dengan sebuah kumpulan cerpennya “Dua Kerinduan” (1963). Kebanyakan cerpennya belum meyakinkan kita akan kematangannya. Yang dia berikan tidak lebih dari hanya harapan untuk masa depan.

Sugiarti Siswandi banyak menulis cerpen yang dimuat dalam lembaran-lembaran penerbitan Lekra. Kumpulan cerpennya “Sorga di Bumi” terbit tahun 1960. Di samping itu masih banyak lagi cerpen-cerpennya yang lain belum dibu-kukan.

Ernisiswati Hutomo banyak menulis cerpen yang antara la-in dimuat dalam majalah Sastra. Tetapi belum ada yang dibukukan. Demikian juga dengan Titis Basino yang menulis cerpen dengan produktif dalam cerpen-cerpen Titis banyak dilukiskan sifat dan tabiat wanita yang kadang-kadang tak terduga, merupakan misteri.

Enny Sumarjo (lahir di Blitar pada tanggal 21 November 1943) terutama banyak mengumumkan buah tangannya berupa cerpen di daerah (Yogyakarta, Semarang). Kini ia telah menrbitkan sebuah roman berjudul “Sekeping Hati Perempuan” (1969).

Susy Aminah Aziz (lahir di Jatinegara tahun 1939) telah berhasil menerbitkan sejumlah sajaknya dalam kumpulan berjudul “Seraut Wajahku” (1961). Tetapi sajak-sajak itu tak lebih daripada hanya menjanjikan kemungkinan saja, seperti juga dengan sajak-sajak Dwiarti Mardjono yang dimuat dalam majalah sastra.

Yang menulis sajak lebih dewasa dan lebih baik ialah Isma Sawitri dan belakangan ini Toety Heraty Noerhadi. Isma Sawitri dilahirkan di Langsa, Aceh, tanggal 21 November 1940. Sajak-sajaknya banyak dimuat dalam majalah Sastra, Indonesia, dan majalah-majalah lain pada awal tahun enam puluhan. Kumpulan kwatrinnya yang diberinya berjudul “Kwatrin” terdiri dari lebih 100 buah, sedang menunggu penerbitannya. Sambil terus mengikuti kuliah di jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta ia lama menjadi anggota redaksi surat kabar Angkatan Bersenjata, kemudian pindah ke Pedoman.

Toety Heraty Noerhadi yang kalau menulis mempergunakan Toety Heraty, dilahirkan di Bandung tahun 1934, baru mulai mengumumkan sajak-sajaknya pada tahun 1967 dalam Horison. Ia merupakan seorang sarjana psikologi yang di samping menulis sajak juga menulis esai.

Drama

Penulisan drama pada masa dulu lebih banyak dimaksudkan sebagai drama bacaan, sedang drama baru lebih erat hubungannya dengan pementasan. Para penulis drama kebanyakan ialah orang-orang yang aktif dalam bidang pe-mentasan, baik sebagai sutradara maupun pemain. Contoh pengarang drama:

Mohamad Diponegoro, seorang ketua group drama teater muslim di Yogyakarta. Contoh karyanya antara lain: “Iblis”, “Surat pada Gubernur”. Dia juga dikenal sebagai pe-nulis cerpen dan penerjemah ayat-ayat Al-Qur’an secara puitis. Namun sampai sekarang karyanya belum diterbitkan.

M. Yunan Helmy Nasution, ketua Himpunan Seniman Budayawan Islam (HSBI).

Saini K.M, seorang penyair juga pemain teater Perintis Bandung.

B. Soelarto, dengan karyanya “Domba-domba Revolusi”.

Arifin C. Noer, aktif di Teater Muslim dan group drama di Yogyakarta, tahun 1968 dia pindah ke Jakarta dan membentuk Teater Kecil Dua aktif sebagai sutradara dan pemain. Ia banyak menulis sajak, drama, kritik dan esai. Bahkan dramanya yang berjudul “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” dan “Nenek Tercinta” mendapat hadiah sayembara penuli-san drama Teater Muslim tahun 1963.

Esai

Pada angkata 45 para penulis esai dapat dihitung dengan jari. Setelah itu bermunculan penulis-penulis esai dan yang paling dikenal ialah Iwan Simatupang. Dia banyak melontarkan gagasan-gagasan dan perspektif-prespektif baik. Namun esai-esai yang ada dalam majalah-majalah yang pertama memuatnya hampir semua terbenam. Kumpulan esai tentang persoalan sastra telah diterbitkan oleh Setyagraha Hoerip Soeprobo dengan judul “Antologi Esai Sekitar Persoalan Sastra” (1969).

 
ARMAYA (ABDUL KADIR ZAELANI)

Armaya, yang bernama lengkap Abdul Kadir Zaelani, terkenal sebagai salah satu di antara sederet sastrawan bersejarah dan berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia sejak tahun 50-an. Kecintaan dan eksistensinya di dunia tulis-menulis, baik sastra maupun kajian-kajian budaya dan sejarah Banyuwangi (tempat kelahirannya), tidak terbantahkan. Di pertengahan tahun 1980-an, Armaya pulang ke Banyuwangi dari perjalanan studi dan pekerjaan. Di kota-kota yang pernah ditinggalinya, Armaya menulis. Armaya juga mengelola media-media sastra dengan uangnya sendiri. Dia berkeyakinan, bahwa dengan membiayai media tulis-menulis meski dengan terbatas, berarti telah beramal bagi peradaban sebagai ibadah. Militansi dan kecintaannya inilah yang menjadi aset penting sebagai “benteng pertahanan” idealis dunia menulis.

Armaya pernah bersekolah di sebuah SMA Katolik di Solo. Sahabat sekelasnya adalah WS. Rendra. Menurut cerita yang pernah disampaikan WS. Rendra, bahwa sahabatnya, Armaya, adalah orang yang sangat konsisten. Masih menurut WS. Rendra, Armaya terkenal tegas namun pemaaf, dermawan dan menyukai binatang. WS. Rendra terkenang ketika dia, waktu itu, mencintai seorang gadis Solo, dia meminta sahabatnya, Armaya, untuk mengantarkan surat cintanya buat gadis yang ditaksirnya itu. “Armaya sangat berjasa buat saya secara pribadi. Armaya juga sangat berjasa menghidupkan dunia tulis di tempat kelahirannya. Saya pernah diundangnya dalam peluncuran buku puisi penyair-penyair Banyuwangi dan Bali di Banyuwangi pada tahun 1998. Saya sangat berharap Armaya tetap mendanai media tulis di tempat kelahirannya itu. Saya kangen Armaya,” kata WS. Rendra ketika masih hidup. Dari “jasa pos” surat cinta oleh Armaya itu, akhirnya WS. Rendra berhasil menikahi gadis yang dicintainya kemudian dikarunia beberapa orang anak.

Sebagai seorang sastrawan berpengaruh, karya-karya Armaya banyak dimuat di media-media bersejarah di negeri ini, seperti di Sastra, Siasat, Konfrontasi, Bendera Sastra di Bandung tahun 1980-an yang dikelolanya, dan dalam antologi puisi bersama Goenawan Mohammad, Hartojo Andangdjaja, dll. Mansur Samin, Taufiq Ismail dan HB. Jassin adalah orang-orang yang mengenal Armaya cukup baik. Karya-karya Armaya banyak didokumentasikan oleh HB. Jassin. Armaya sendiri, sebagaimana kebiasaan kebanyakan penulis, tidak cukup mendokumentasi karya-karyanya sendiri, dokumentasinya buruk. Namun, Armaya menerbitkan karya-karya penulis-penulis lain di tempat kelahirannya (Banyuwangi) dengan senang hati dan dengan biayanya sendiri. Itu dilakukan Armaya, tak lain sekadar untuk mendokumentasikan karya-karya agar tidak hilang. Tidak ada tujuan untung-rugi, melainkan itu dilakukan Armaya dengan tulus. Tulisan-tulisan Armaya juga dimuat sebagai tulisan inspiratif di Jambi, tempatnya bekerja di tahun 70-an. Armaya juga pernah menjadi dosen Bahasa Indonesia di IKIP Jambi.

Selepas dari SMA Katolik di Solo, Armaya tidak pulang ke kampung kelahirannya. Dia merantau, kuliah di Jakarta pada Universitas Indonesia (UI) jurusan Ilmu Hukum, kemudian pada periode berikutnya ia tercatat sebagai pegawai pemerintah di Jambi, kemudian Bandung, Jakarta dan terakhir (di masa pensiun) Armaya kembali ke Banyuwangi pada pertengahan tahun 1980-an. Nama Armaya tidak asing lagi dalam sejarah sastra di tanah air. Dia adalah salah satu sastrawan (penulis) dan sekaligus penggerak kebudayaan. Tidak banyak penulis yang mengorbankan dananya untuk sastra dan budaya, dan Armaya salah satu di antara yang tidak banyak itu. Dan Armaya adalah penting. Langka dan keberadaannya sangat berarti. Karya-karya Armaya di awal-awal kepenulisannya adalah karya-karya yang sudah sangat matang dan diperhitungkan. Puisi-puisinya eksotis dana sederhana namun dalam dan orisinil. Armaya juga menulis naskah-naskah drama radio. Beberapa penyair terkemuka kita, seperti Hartojo Andangdjaja, Taufiq Ismail, Mohammad Diponegoro, dan Goenawan Mohammad mengaku banyak terpengaruh dan terinspirasi oleh karya-karya Armaya. Kemudian beberapa generasi sastrawan berikutnya dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia pun banyak terpengaruh atau terinspirasi oleh karya-karya Armaya. Itulah karenanya, nama Armaya termasuk salah satu nama yang karya-karyanya memiliki pengaruh, sehingga menempatkan Armaya sebagai salah satu dari sejumlah sastrawan Indonesia yang berpengaruh.

Di tahun 60-an, di mana pernah terjadi Polemik Kebudayaan yang kita kenal dengan Manikebu, Armaya adalah salah seorang yang sangat diincar oleh kelompok Lekra. Tanpa mungkin disadarinya, Armaya memiliki sejumlah pendapat dan pendirian yang sangat cemerlang tentang kebudayaan. Bersama WS. Rendra, Ajip Rosidi, Taufiq Ismail dan Hartojo Andangdjaja, Armaya menyuarakan sikap tegas menolak terhadap membredelan karya-karya atasnama politik. Armaya berpendapat, bahwa karya dan pendirian kebudayaan hanya dipertimbangkan oleh ruang dan waktu serta masyarakat, bukan oleh kekuatan politis dan kepentingan tertentu. Dengan demikian, Armaya sangat membenci pembatasan atau pembrdelan karya oleh persoalan politik, bahkan dia sangat tidak menyukai pengekangan karya oleh masalah teknis sehingga karya-karya tersebut menjadi gagal terdokumentasikan. Walaupun Pramoedya Ananta Toer waktu itu termasuk “sastrawan Lekra”, namun Armaya tetap menghargai karya-karya Pram sebagai karya bermutu di Indonesia. Sikap obyektif Armaya inilah yang membuat sebentuk pusaran baru yang di dalamnya tercatat nama-nama seperti WS. Rendra, Ajip Rosidi, Taufiq Ismail, Mochtar Lubis, dll. ke dalam arus pemikiran Armaya. Armaya adalah pelopor, dan mungkin ini tidak ia sadari. Untuk itulah, sejarah sastra Indonesia harus melakukan penelusuran yang sangat mendetil pada wilayah geo-sosiologis, sehingga nama sepenting Armaya tidak terlepas dari catatan.

Sikap Armaya yang bersahaja dan penuh perhatian meskipun dengan gaya yang terlihat cuek, membuat sejumlah penulis-penulis kenamaan kita merasa nyaman dengannya. Di samping karya dan pemikirannya tentang seni-budaya yang orisinil dan memiliki pengaruh, dia tergolong orang yang sangat konsisten dan simpatik. Paling tidak demikianlah Goenawan Mohammad pernah menceritakan pengalamannya bersama Armaya. Di masa sulit, Goenawan Mohammad selalu dekat dengan Armaya. “Di antara para penulis waktu itu, Armaya itu paling banyak uangnya. Jadi, saya sering bersamanya waktu itu, saya ditanggungnya, makan dibayari, dan saya sering meminta beras untuk makan kepada Armaya. Saya sangat kagum kepada Armaya. Seperti pernah diceritakan Mas Willy (WS. Rendra), bahwa Armaya menghidupi media sastra-budaya di tempat kelahirannya. Itu luar biasa. Saya berharap Armaya tetap begitu,” kata Goenawan Mohammad suatu ketika. Seniman-seniman dan penulis-penulis terkemuka Indonesia sangat mengagumi Armaya, misalnya Ali Audah dan Syu’bah Asa yang meletakkan sebutan kepadanya sebagai seorang “pembela dan pemberi hidup” yang menyimpan komitmen membiayai media tulis di tempat kelahirannya, ini lantaran dengan penuh keyakinan, Armaya pulang kampong dan menarik diri dari pergulatan sastra nasional di Jakarta, namun dengan ketekunannya, justru media cetak sastra-budaya di tempat kelahirannya yang “lokal”, Armaya semakin memiliki fungsi penting di tengah kehidupan secara universal, lebih dari sekadar “nasional”, ia telah melampuai batas-batas ruang dan waktu, ia kokoh dalam gerakannya itu, yang oleh Syu’bah Asah disebut dengan istilah “sosok kuat yang secret narration”, kokoh dengan konsistensinya menghidupi tulisan-tulisan.

AK. ARMAYA yang bernama lengkap ABDUL KADIR ZAELANI ARMAYA adalah seorang pelaku sejarah sastra-budaya. Beliau telah menghabiskan waktunya untuk sekian lama bergelut dalam dunia sastra-budaya. Sejak Haji Armaya pulang ke kampung halaman (sekitar  tahun  1987),  sejak  itulah Banyu­­wangi menampung putra daerah yang lama menghilang. Secara perlahan kepula­ngannya mengu­sung gairah baru dalam bersastra-budaya. Sampai hari ini, sejumlah penerbitan buku dan majalah sastra-budaya yang terbit di Banyuwangi nyaris tak pernah luput dari perannya. Semua tahu, Haji Armaya tak sekadar konsisten menulis, tapi ia pun ikhlas secara “mandiri” membiayai penerbitan dan sejumlah kegiatan seni yang diselenggarakan oleh sejumlah komunitas. Lahir di Banyuwangi, 10 Juni 1930. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Pernah menjadi dosen Bahasa Indonesia pada IKIP Jambi (1974), kini mengajar dan menjadi Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Banyuwangi. Tulisannya tersebar di berbagai media massa, di antaranya: Majalah Kisah, Siasat, Konfrontasi, Sastra, Indonesia Raya, Majalah Budaya (Jogjakarta), Koran Dwiwarna (Surakarta), Koran Tribun Pemuda (Jakarta), Buletin Bendera Sastra (Bandung), Buletin Suara Hamba, Buletin Jejak, Jurnal Kebudayaan Lontar, Buletin Baiturrahman, Tabloid Ge-M (Bali), Majalah Budaya Jejak, dan lain-lain. Puisi-puisinya juga diantologikan dalam Simponi Puisi (1954), Manifestasi (1963), Cadik (1998). “Bayangan” (Novel. PSBB, 2010), “Keris Emas” (Novel. PSBB, 2011), “Menimba dari Kejadian” (Esai-esai Terpilih. PSBB, 2011), “Beridirnya Kerajaan Macan Putih” (Novel. PSBB, 1994), “Tirtaganda” (Novel. PSBB, 2010), “Nyanyi Kehidupan” (Kumpulan Puisi. PSBB, 2011), dan lain-lain.

Pendiri dan Ketua Pusat Studi Budaya Banyuwangi (PSBB), Ketua Himpunan Budayawan Banyuwangi (HBB), Ketua Pembina Yayasan Pusat Dokumentasi Budaya Banyuwangi (PDBB), dan Penasehat Dewan Kesenian Blambangan Reformasi (DKB-R). Pernah mengasuh ruang budaya pada Koran Tribun Pemuda (1983), Pemimpin Redaksi Majalah Citra (1956), Reporter Koran Dwiwarna (1953), dan lain-lain.  

Beberapa karya intelektual, berupa buku, majalah, buletin yang dibidani, di antaranya:   

Buletin Bendera Sastra, Terbitan Grup Lare Banyuwangi Peran­tauan, Januari 1982—seterusnya (Sebagai Pemimpin Redaksi)

Buletin Suara Hamba, Terbitan Yayasan Masjid Agung Bai­tur­rahman Banyuwangi, 1988—seterusnya (Sebagai Pemimpin Redaksi)

Buletin Menara, Terbitan Yayasan Masjid Agung Baitur­rah­­man Banyuwangi, Ramadhan 1418 H.—seterusnya. Buletin Jejak, Terbitan Remasgung Baiturrah­man Banyu­wangi, 4 September 1998—seterusnya (Sebagai Penasehat)

Buletin Baiturrahman, Terbitan Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, 7 Desember 2001—seterusnya (Sebagai Penasehat)

Buku (Novel) Berdirinya Kerajaan Macan Putih, Terbitan   Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Desember 1998 (Karya Armaya)

Buku Antologi Puisi Wirid Muharram, Terbitan Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Maret 2001 (Karya Penyair-penyair Banyuwangi)

Buku (Kamus) An English Banyuwanginese Dictionary, Terbitan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Agustus 2001 (Karya Abdul Holik, Dipl.)

Buku (Kamus) Cara Penulisan dan Pengucapan Kata-kata Belambangan, Terbitan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Desember 2001 (Karya Endro Wilis)

Buku Antologi Puisi Dzikir, Terbitan Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Desember 2001 (Karya Penyair-penyair Banyuwangi)

Buku Lintasan Sejarah Blambangan, Terbitan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Maret 2002 (Karya Drs. Dasuki Noer)

Majalah Budaya Jejak, Terbitan Dewan Kesenian Blamba­ngan Reformasi, Mei 2002 – seterusnya (Sebagai Penasehat dan Redaktur Senior)

Buku Undharasa (Kumpulan Puisi Cara Banyuwangi) Dubang, Terbitan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Agustus 2002 (Karya Abdullah Fauzi)

Buku Antologi Puisi Menara Tujuh Belas, Terbitan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Agustus 2002 (Karya Penyair-penyair Banyuwangi)

Buku Antologi Puisi Tilawah, Terbitan Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Desember 2002 (Karya Penyair-penyair Banyuwangi)

Buku Sajak-sajak Cinta Gagasan Hujan, Terbitan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Juni 2003 (Karya Fatah Yasin Noor)

Buku Kumpulan Puisi Cinta Rembulan di Atas Gelombang, Terbitan Pusat Studi Budaya Banyuwangi, Oktober 2003 (Karya Iwan Aziez Siswanto S.)
 
Tulisan-tulisan berpengaruh Armaya termuat di media-media berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia, yakni di Majalah Kisah, Berkala Siasat, Konfrontasi, Sastra, Indonesia Raya, Majalah Budaya (Yogyakarta), Koran Dwi Warna, (Surakarata), Koran Tribun Pemuda (Jakarata), Buletin Bendera Sastra (Bandung), dan lain-lain.

Mari kita simak puisi Armaya, sebagai berikut:

Kepada Sapiyah

Hari ini gerhana bersalam pagi
karena keduanya telah pada hatinya

padu dalam menerima kedatangan lelaki tualang


Lelaki miliknya bumi miliknya
nyanyi pohon manggis sendu bernaung keduanya

janji mewarna dalam kebenaran kata-kata: Hiduplah


Hanya dalam daerah ini aku bertahan pagi sekali

memandang jalan yang memanjang dari sisi kehidupan

kelahiran sajak-sajak padu dalam hijau matamu


(Sumber:
Konfrontasi
Nomor: 18 Boelan Mei Tahoen 1957)


Berita dari Solo
bagi: Untung Kertapati dan Nanny, kasihnya.

Begitu diri pernah kedinginan dari lembah
Begitu kehidupan menyapa lalu mengunci diri terlalu kejam

Begitu ungu langit di mulutnya berbagi cerita


Lalu menebar kedamaian dalam diri sendiri

Lalu habiskan hari untuk satu kerajaan dunia

Lalu sama mendekati karena hijau rembulan pada keningnya


Jadi berdua pisahkan kuning lembah yang memucat

Jadi kehijauan hutan bersenyawa pada dirinya


(Sumber:
Konfrontasi
Nomor: 18 Boelan Mei Tahoen 1957)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar